posted by Sylvie on Jan 5

Terlalu naif jika aku menyebut kehadiran bianglala yang tak berwarna sebagai keindahan yang kukecap.  Jika ada kata yang paling tepat untuk memaknai semua bianglala hitam-putih itu maka ialah yang kusebut mimpi di gudang yang gelap.  Tapi, juga bukan juga tipuan jika aku melalui semua bianglala hitam putih itu tanpa riak yang menghanyutkan.  Tapi diantara keduanya, naif dan pengakuan itu tetap memiliki batasan yang sangat jelas, dan aku sudah memilih bahwa sudah saatnya meninggalkan riak yang menghanyutkan dalam belai bianglala hitam putih itu, untuk kemudian menceburkan diri, berenang-renang riang dan menyelam hingga menyentuh tingkat pendobrakan dahaga yang paling menyesakkan……. “perahu kertass ku kan melaju…membawa surat cintaku padamu, kata-kata yang sedikit gila tapi ini adanya….! setidaknya ini adalah senandung yang tepat disela sela serpihan bianglala hitam putih.

 

 

 

posted by Sylvie on Jan 5

Fajar tak pernah benar-benar menyingsing kala aku terbangun dari lelap.  Seperti biasanya, aku terbangun di saat itu, memulai hari dengan mendesah penuh haru sambil bergumam, terimakasih Tuhan karena telah mengetuk lelapku.  Fajar, saat dimana matahari sedang bersiap-siap kembali ke tahtanya yang terang benderang.  Saat itu, embun-embun turun ke bumi, menjilati dedaunan, jatuh bertumbukan di tanah dan menyusupkan hawa dinginnya yang basah.  Tapi, itu tak lama, karena embun-embun kembali keperaduannya saat sinar mentari menyeruak diantara dedaunan.  Kembali, seperti dulu dan kemarin, matahari membangunkan jiwa-jiwa yang tadinya lelap.  Di saat seperti ini, aku merasakan kenyamanan teramat sangat.  Fajar, pagi…, seperti tirai-tirai yang berkilauan.  Tapi, ini juga takkan lama, karena akan berputar lagi…dan berganti dengan lembayung senja yang jingga, terang sesaat lalu gelappun merayap.  Meski rembulan menyinari, gelap merayap dan sesekali remang membuncah.  Dalam tiap rotasi akhirnya, aku beranjak sejak senja, membaringkan raga sejak senja, menghanyutkan jiwa dalam gelap dan kembali terjaga kala fajar.  Ini selalu aku lewati, dengan perasaan yang selalu berbeda tiap saatnya.  Persamaannya hanya pada gumaman hati paling dalam, bahwa saat saat seperti ini akan membawa jiwa ragaku pada titik tolak yang aku dambakan.

 

050114

posted by Sylvie on Jun 30

sudah pukul 2;06 dini hari,aku masih terjaga.  Tuhan memberikan waktu untuk aku merenung dan mencermati jalan panjang yang sudah aku lewati, hingga detik ini.  Beragam bayangan lampau hinggap di benakku, bayangan saat masih kecil, belia dan dewasa.  Tak sedikitpun ada sadar menyeruak hingga saat itu betul betul menapaki jalannya.  Sekarang, aku disini, di tempat yang dulu pernah kupikirkan sebagai tempat melarikan diri, dan ternyata itu terjadi, meski pada kenyataanya aku tidak dalam misi melarikan diri.  Misi ini lebih dari yang aku inginkan, dimana pada akhirnya aku bisa menyulam benang-benang kerinduan yang aku punya dan aku hadirkan setiap hari.

Kerinduan pada orangtua dan saudara serta belahan jiwaku adalah hal yang paling banyak kupintal dalam lembaran waktu dan hari-hariku.  Dan pada saat ketika pintalan itu sudah tak mampu diuraikan maka tidak ada yang mengharukan dari apapun selain upaya mengurai kerinduan itu sendiri.  Dan setidaknya, aku selalu bersyukur, karena hingga dengan saat ini aku sudah mengenyam beragam perasaan, dan aku sangat yakin bahwa tidak semua pernah merasakannya.

Demi masa, aku tidak sedang mengumpulkan pundi-pundi harta yang tak kekal, aku sedang memupuk rasa hormat, menumbuhkan rasa setia, menghidupkan rasa cinta dan mengubur prasangka tentu saja dengan perjuangan yang aku anggap tidaklah mudah.

Tidaklah mudah.

 

:: Sylvie:: sunday, last of june 2013:: in my bed room.

posted by Sylvie on Aug 15

Read it by click  these links below;

1. Payment for Environment Services; some nuts and bolts this link

2. Can programs of Payment for Environment Services Preserve Wildlife?

3.  Payment for Ecosystem Services; Getting started

4.  Review of the development PES

 

 

 

posted by Sylvie on Nov 22

Siaran Pers
MALAYSIA HANCURKAN REPUTASI INDONESIA DENGAN MEMBANTAI ORANGUTAN
Untuk disiarkan segera pada tanggal 22 November 2011
Centre for Orangutan Protection (COP) mengutuk perilaku jahat dan kejam perusahaan-perusahaan kelapa sawit Malaysia yang beroperasi di Kalimantan, terutama Metro Kajang Holdings (MKH) Berhad. Perusahaan ini membabat hutan dan membahayakan nyawa orangutan dan satwa liar lain di Muara Kaman, Kalimantan Timur.
Daniek Hendarto, juru kampanye dari Centre for Orangutan Protection memberikan pernyataan sebagai berikut:
“Kejahatan dan kekejaman MKH Berhad telah menghancurkan reputasi Indonesia. Hancurnya hutan dan musnahnya satwa liar di Indonesia tidak memberikan kerugian apapun pada Malaysia. Sebaliknya, malah memberikan keuntungan bagi Malaysia. Dunia akan mengenal industri kelapa sawit Indonesia itu brutal dan pada akhirnya dihindari konsumen. Mereka akan membeli sawit Malaysia. Sawit Indonesia harus dijual dulu dan dilabeli ramah lingkungan di Malaysia agar bisa laku di pasar dunia. Ini hanyalah pengulangan dari kejahatan illegal logging. Hutan Indonesia dibabat, kayunya  dijual ke Malaysia dengan harga murah dan kemudian mendapatkan sertifikat ekolabel, kemudian dijual ke pasar dunia sebagai produk Malaysia yang ramah lingkungan.”
“MKH Berhad menguji integritas penegak hukum Indonesia. Mereka menguji kesabaran dan keberanian bangsa Indonesia. Di saat penyelidikan pembantaian orangutan sedang berlangsung, 1 (satu) orangutan dewasa malah ditemukan babak belur di kawasan perkebunan mereka. Hukum dan Undang-undang nomor 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya diinjak-injak oleh MKH Berhad.”
“Cukup adalah cukup. Saatnya MKH Berhad dan perusahaan-perusahaan Malaysia hengkang dari Indonesia. Sudah cukup mereka membuat masalah bagi Indonesia.”
Pernyatan ini disampaikan dalam protes yang digelar di depan Kedutaan Besar Malaysia. Para relawan COP mengenakan kostum Hanoman, Jaya Anggodo, Suwido. Mereka adalah para kstaria kera dalam dunia wayang.
Untuk wawancara dan informasi lebih lanjut, harap menghubungi:
Daniek Hendarto, Orangutan Campaigner COP.
Phone : 081328837434
WAHYUNI
Centre for Orangutan Protection

www.orangutanprotection.com

yuyun@cop.or.id
Tel:+6282143671729

posted by Sylvie on Oct 14

Kesetaraan Gender

Dalam kehidupan sehari hari, saat ini masih banyak orang yang berfikir bahwa membicarakan gender adalah hal yang tabu, mengada-ada dan tidak realistis, cenderung seolah dibesar-besarkan.  Pada umumnya yang masih berfikir dengan pola tersebut adalah orang orang yang memang berfikir bahwa peran laki laki dan perempuan memang sudah kodratnya berbeda.  Bahkan tak jarang kita mendengar ungkapan  ‘Perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, percuma menghabiskan biaya saja, toh nantinya akan kembali juga masuk dapur’ ungkapan ini masih sering terdengar dalam kehidupan masyarakat kita jika timbul pertanyaan tentang apakah anak perempuan atau laki-laki yang akan diberikan kesempatan untuk meneruskan sekolah. Dari ungkapan tersebut sudah dapat kita lihat ada dua hal yang mencerminkan tidak adanya kesetaraan Gender yaitu: Perempuan tidak diberikan kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang berguna bagi dirinya dan lingkungannya dan Laki-laki tidak diberikan penghargaan yang sama dengan perempuan jika mereka memilih ‘masuk dapur’.

Pemikiran seperti diatas paling banyak muncul pada kelompok masyarakat tradisional patriarkhi yang masih menganggap bahwa sudah kodratnya perempuan untuk melakukan pekerjaan di dapur.  Padahal makna hakiki dari gender adalah bukan kodratnya perempuan untuk masuk dapur, karena kegiatan memasak di dapur tidak ada kaitannya dengan ciri-ciri biologis yang ada pada perempuan. Kegiatan memasak di dapur (atau kegiatan rumahtangga lainnya) adalah suatu bentuk pilihan pekerjaan dari sekian banyak jenis pekerjaan yang tersedia (misalnya guru, dokter, pilot, supir, montir, pedagang, dll), yang tentu saja boleh dipilih oleh perempuan ataupun laki-laki. Kesetaraan Gender memberikan pilihan, peluang dan kesempatan tersebut sama besarnya pada perempuan dan laki-laki.  Untuk lebih memahami kesetaraan gender, kita bisa mencermati kesetaraan Gender terjadi dalam lingkup kegiatan sehari-hari, berikut gambaran sederhana yang terjadi pada dua keluarga: Yang pertama adalah Read the rest of this entry »

posted by Sylvie on Oct 14

Nelayan tradisional adalah nelayan yang memanfaatkan sumberdaya perikanan dengan peralatan tangkap tradisional, modal usaha yang kecil dan organisasi penangkapan yang relatif sederhana.  Visi dan misi utama nelayan tradisional terfokus pada pemenuhan kebutuhan rumah tangga sendiri  yang apabila diterjemahkan bahwa hasil tangkapan ikan nelayan tradisional dijual dan dipergunakan untuk pembelian dan pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari dan bukan untuk pengembangan skala usaha (Satria, 2011).

Nelayan tradisional tidak memiliki kekenyalan atau daya adopsi dan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan sehingga nelayan tradisional lebih rentan terhadap perubahan yang pada akhirnya menjadikan mereka sebagai lapisan masyarakat yang marginal dan tak jarang justeru menjadi korban dari program pembangunan atau modernisasi pembangunan yang sifatnya a-historis.  Nelayan tradisional memiliki ragam aspek kelemahan diataranya, kelemaha adopsi teknologi, kelemahan modal.  Kelemahan adopsi teknologi menjadikan mereka hanya melakukan pemungutan hasil laut tak jauh dari bibir pantai, bahkan apabila cuaca dan suasana hari tak mendukung tak jarang mereka memilih tinggal di rumah daripada melaut sehingga kondisi seperti ini sering diistilahkan  one day a fishing trip (Kusnadi, 2003).  Nelayan-nelayan tradisional saat ini tersebar di wilayah perairan Indonesia dengan beragam aneka nama diantaranya; nelayan jukung, nelayan udang, nelayan pancingan dan nelayan teri nasi.   Read the rest of this entry »

posted by Sylvie on Sep 16

Beberapa variabel ekonomi yang mempengaruhi konservasi sumberdaya alam diantaranya, tingkat bunga, preferensi waktu, pendapatan, sewa, ketidakpastian, pajak, kebijakan harga, hak penguasaan (property Right), stabilitas ekonomi dan bentuk pasar. Bagaimana variabel tersebut mempengaruhi konservasi sumberdaya alam, akan dibahas pada penjelasan di bawah ini :

1. Tingkat Bunga
Tingkat bunga adalah variabel yang paling konsisten mempengaruhi konservasi Read the rest of this entry »

vps hosting - wordpress themes - ipage review